The Travelmates

And inspiration goes on..

Hujan mengantarkan saya ke banyak kenangan. hehe. Saya jadi inget perdebatan-perdebatan saya waktu lagi traveling ke Malaysia.

Pesawat take off. Dan dimulai lah serangkaian perdebatan kami. Beberapa saat setelah landing, saya terlalu antusias terhadap liburan ini dan sesuai dengan itinerary saya langsung jalan dan buru-buru menuju  Aerobush menuju KL central, masadit diam aja dan ngikutin saya. Setelah duduk nyaman, saya lihat masadit lagi mengeluarkan jurus alis bertaut. Alis dia tebel, rapi lagi, kalah sama alis saya yang harus di rapiin sama pensil alis.

“Kenapa harus buru-buru sih? interval busnya kan tiap tiap lima menit,”

“Aku cuma gak mau ketinggalan bus yang ini, biar cepet sampai ke KL Central, kenapa tadi diam aja? aku kira kamu oke”

“Aku panggilin kamu gak denger gitu, tetep ngebut jalannya dan udah langsung beli tiket bus aja,”

I said sorry then, tapi lebih cepat lebih baik kan? gak ada yang dinikmati juga di airport ini.

Sampai di KL central kehabisan tiket kelas ekonomi. Budget cuma cukup itu naik kereta ekonomi. Saya memang planner yang hebat, tapi berkurang hebatnya karena terlalu cepat panik menghadapi hal yang gak sesuai dengan rencana. Panik menyerang, saya mulai pasang muka bete dan diam sepanjang jalan keluar dari antrian tiket kereta api ini.

“Yaudah gak usah panik, yuk duduk dulu. Coba mana sini jadwal kita,”

“Kita naik bus aja kalo gitu, yuk kita ke terminal” masadit mengambil alih rencana. Saya bersyukur dia mengambil keputusan cepat, karena saya akan sangat lama berpikir dalam keadaan panik.

Kita lagi jalan dan udah sampai juga di Penang. Saya sudah asyik lirik kiri-kanan nikmatin pemandangan kota Penang yang masih sepi karena kita datang terlalu pagi..

“Eh nanti kita kemana dulu ya? penginapan belum pada buka nih, kita keliling aja dulu yuk,”
He just said “yuk”. Then i saw his face, ya ampun mukanya lemes apa bete gak tau deh itu. Saya paling gak nyaman sama situasi ini.

“Whats going on? kalau gak suka bilang aja, bisa kita diskusikan kok, aku cuma mikir tadinya biar gak wasted time aja nungguin,”

Matanya masih sayu, senyumannya juga dipaksa. I hate his face like this. Saya bingung harus buat apa.

“Makan dulu yuk,,” Dia ngomong gini masih dengan muka yang ternyata muka capek campur laper. Haha astaga, are you hungry? saya baru inget terakhir kita makan itu sore kemaren dan kita udah menempuh perjalanan jauh selama berjam-jam.

“Lets go..!” Saya gak tanya lagi makan dimana, dia juga bakalan bilang terserah kalau udah dalam kondisi lapar. Kita sarapan roti canai. Dan kenapa saya jadi pesan roti canai onion?

“Bukannya kamu gak suka bawang? udah berubah selera, atau mikirnya bawang disini rasa keju ya?” dia nahan ketawa lihat ekspresi kaget saya waktu sadar kalau saya pesan sehelai tepung dengan taburan bawang mentah!

“Nih…barengan makan egg canai aku aja,”

Dia nyodorin piringnya, gak tega kali ya liat saya kibas-kibasin bawang biar jatuh dari roti canainya. Sebenarnya, gak ditawarin pun tadinya saya juga udah niat banget mau ngerampok punya dia ini.

Pemberhentian selanjutnya adalah Melaka. Saya dicuekin waktu tidur di terminal di Melaka. Karena bus kami ada dijadwal sangat pagi, kami memutuskan untuk bermalam di terminal saja, sekalian menghemat baudget. Saya gak bisa tidur karena panas dan banyak nyamuk. Karena bosan, saya coba bangunkan masadit. Dia tetap anteng dengan posisinya tidurnya. Saya heran dia bisa tidur dengan nyamuk disekelilingnya. Jadilah saya sebagai pengusir nyamuk.

Akhirnya saya bosan dan pindah keluar buat cari angin, Saya tetap bisa lihat masadit yang tidur sama tas kami, buat jaga-jaga. Saya lihat sekeliling, bersebrangan dari tempat masadit tidur, ada cewe jepang yang tidur nyenyak, mungkin dia juga nunggu bus pagi.

Lalu tiba-tiba masadit bangun dan langsung duduk muter-muterin kepala, mungkin dia sadar kalau saya gak ada disekitar dia. Lama saya lihatin dari jauh sambil ketawa, baru lah saya lari kearah dia.

“Im here,,,”

“Jangan bikin aku panik dong, aku kira kamu hilang diculik siapa gitu,,”

“Panas, cari angin disana,”

“Udah sini aja, tidur, kita butuh banyak tenaga,” Dia tidur sambil pegangin baju saya. Then dia tidur lagi. Nyenyak banget. So I? Sibuk nepukin nyamuk (lagi).

Baca peta juga bisa jadi hal yang diributin.

“Kita sekarang dimana? guesthousenya disini kan? berarti kita lewat sini nih,” saya serius banget sambil nunjuk-nunjuk peta.

Setelah jalan. “Kok jadi kesini ya, coba cek lagi petanya,”

“Eh kok bisa sampai disini ya? muter lagi ya berarti?”

Dan kita muter-muter di jalanan malaka yang penuh dengan gang tak berujung ini.

“Kita mau kesini (nujuk peta) lewat sana kayaknya nih, mungkin” saya nyegir. masadit langsung menatap saya yang mungkin artinya “I don’t believe you to read this Map anymore”

“Ini, nih coba deh coba, biasanya aku bisa kok, buktinya kita aman-aman aja waktu di Penang,” saya menjawab tatapan matanya.

“Haha iya-iya. We do this together, bersama lebih baik, ngapain pusing sendiri. Senyum dong, katanya kuat keliling-keliling,” Duh.

“Ini kayaknya petanya kurang detail, kita lewat sini aja,” dia narik tangan saya, dan gak pakai nyasar kita sampai di tujuan. Setelah pengalaman itu saya percayakan masalah peta-peta-an  sama masadit. Ternyata dia jago  baca peta, ya, tapi kita tetap sering sharing sama-sama baca petanya. hehe

Capek dan lapar adalah kombinasi yang pas untuk menaikkan tingkat kesensitifan, so be carefull. Waktu lagi makan di Medan Selera Terminal Puduraya. Kita biasanya sepakat makan sepiring berdua aja dulu, terus dia bilang coba kali ini kita makan banyak.

“Nanti kalau uang kita gak cukup gimana?”

“Udah hari terakhir juga kan, masih banyak sisa,” dia senyum.

Aku diam, lagi ngitung keuangan. “Yaudah, terserah aja. Kayaknya cukup kok,”

Kita pesen satu lagi.

“Kenapa malah diam aja?”

“Gak ada kok,”

“Ngitung uang kita? kamu perhitungan ya orangnya. Kalau buat orang lain gitu ternyata hitung-hitungan banget,”

Saya yang semula masih bisa natap matanya ngomong, perlahan nunduk. Saya sempat lempar senyum sampai akhirnya saya beranjak ke toilet dan gak bisa nahan air mata. Saya nangis. Salah saya apa? saya cuma mau pastiin kita tetap aman sampai hari terakhir, toh dia juga yang nekat untuk berangkat dengan budget seada-adanya ini.

Saya balik dari toilet dan sudah menghapus air mata saya. Ternyata makanannya udah datang.

“Yuk makan,,”

Kami masih ngobrol sampai bakso ini habis. Bakso habis kami pun jadi diam.

“Yuk lanjut jalan,” aku usaha buat pecah keheningan.

“Maaf ya, tadi kata-kata aku nyakitin,”

eh.

“Iya gapapa,” <— jurus andalan banget nih, cewek.

“Gapapa tapi sempet nangis diam-diam gitu?” saya diam. Cuma natap dia.

“Maaf ya, aku tau kamu usaha yang terbaik buat kita kok,”

“You know kan, dari awal kamu udah kasih aku tanggung jawab buat kelola keuangan kita, so i do my best. But sorry kalau serve-nya kurang memuaskan,”

“Iya, I love you,,”

“I love you too, yuk kita lanjut jalannya,”

“Masih banyak yang harus kita explore sayang,” Ngomong gini sambil gandeng tangan saya.

saya menyebalkan banget, ya?  untung masadit sabar, hehe

We talked, we laugh and we forgot about our bad conversation.

Advertisements

4 thoughts on “The Travelmates

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s