Pertama Kali Backpacker-an

IMG_2924
Saya enggak bakalan pakai sepatu ini lagi kalau traveling

Backpacker, selain mengunakan tas punggung sebagai barang bawaan, saya anggap juga sebagai ajang meminimalisir pengeluaran.

Pilihan pertama untuk coba jadi backpacker jatuh pada negera tetangga, Malaysia. Ya memang harus saya akui, keramahan warga negaranya hingga fasilitas terhadap wisatawan patut di acungi jempol. Ketakutan-ketakutan hidup dijalanan selama jadi backpakcer bisa dikatakan aman. Karena saya bukan tipikal solo traveler, saya berangkat bareng Kudit.

Niat untuk backpackeran bermula dari tiket promo Airasia. Waktu keberangkatan ditentukan dari jadwal tiket promo. Hehe. Planningnya saya akan berkunjung ke Kuala Lumpur, Penang dan Melaka.

Sebelum berangkat saya survey dulu gimana caranya bisa sampai ke Bandara. Karena kalau naik Taksi harus mengeluarkan biaya ekstra. Saya berangkat ke Bandara naik Transpekanbaru. Gak ada jalur bus langsung menuju bandara, Sebenarnya ada halte bus Transpekanaru, tapi entah kenapa gak ada bus yang masuk. Jadi jalurnya, saya naik di Halte depan RS Awalbross Panam dan harus transit diHalte SImpang tiga MTQ. Nah, dari sini harus nunggu bus ke arah kubang/naik oplet biru/ bus trans pekanbaru.

Kami naik lanjut naik transpekanbaru dan turun di halte Indosat ( arah marpoyan). Saya harus jalan lagi untuk bisa mencapai Bandara Sultan Syarif Kasyim II. Lagi pula jalan ini jauh lebih cepat sampai kalau dijangkau dengan jalan kaki dibandingkan dengan jalan depan masuk bandara. Walaupun ada satpam yang jaga, jalan ini bisa kok dimasukin sama orang umum, cuma memang gak ada lahan parkir lama untuk yang bawa kendaraan.

IMG_2906
Jalur Alternativ masuk Bandara Sultan Syarif Kasyim II

Jam 16.45 kita landing dan langsung menuju KL central untuk beli tiket kereta api Senandung mutiara yang berangkat jam 11 malam. Sempat putar-putar di Kl central yang memang ramai banget, padahal sebelumnya udah punya panduan yang di catat dari blogger lain. Dan ternyata tiket kelas ekonomi sesuai dengan yang kita planingkan habis, tinggal yang eksekutif dengan harga dua kali lipatnya. Inilah titik mula saya kepengen punya kartukredit!

Saya langsung panik. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat naik bus dan harus meluncur ke terminal Pudu raya. Kami naik KTM yang pembelian tiketnya otomatis dari mesin.

Karena ini kali pertama, kami bagi tugas, Kudit antri sementara saya celingak-celinguk liatin cara orang lain pesan tiketnya. Saya masih juga kurang ngerti, setelah mungkin agak lama kami ribut berdua, sementara antrian yang memang cepat berganti dan sudah panjang mulai gak sabar, ada bapak-bapak dari antrian mesin sebelah, sambil dia pesan tiketnya sambil dia tanya kita mau kemana.

Setelah itu ada ibu yang belakangan kami tau namanya bu Halimah bantu kami pencet-pencet stasiun mana yang harus kami tuju untuk bisa sampai di terminal puduraya. Dari Kl central kami akan lewati dua stasiuan, di stasiun Masjid Jamek kami turun dan lanjut jalan sedikit baru sampai di terminal puduraya.

Banyak banget bus yang nawarin tujuan penang, dan perbandingan harga yang tipis. Baru sampai di puncak eskalator kami udah langsung dibrondolin sama orang -orang yang nanyain mau tiket kemana, mereka kayaknya bukan calo, lebih ke pedagang masing-masing bus untuk ‘jemput bola’ biar dapet banyak penumpang. Karena berapapun jumlah penumpang bus akan tetap berangkat sesuai jadwal.

Kami akhirnya pilih naik bus Transnasional. Bus nya nyaman, firstclass, bangkunya juga lebar, untuk ukuran saya yang kecil ini masih banyak sisa tempat duduknya. Keesokan subuhnya kami sampai di Terminal Sungai Nibong, Penang. Dan harus lanjutkan perjalanan lagi menuju George town, hampir seharian waktu habis diperjalanan. Kira-kira jam 5 waktu malaysia, Terminal masih sepi, bahkan loket yang ada dilantai atas masih sepi, kami sempat naik keatas dan numpang ke toilet yang disitu tertulis 30 sen. Tapi karena masih terlalu pagi, belum ada yang jaga. Kualitas Toilet disini gak begitu terawat.

Kami sempat bingung halte bus menuju geoge town dimana, karena banyak bus Rapid yang lewat gak pakai berhenti di depan terminal. Ternyata di gerbong ketibaan, tempat kami diturunkan ada bus yang pick and go, bahkan harus uang pas untuk beli tiket. Kita sampai lewatkan satu bus nomer 17 tujuan Lebuh Chulia untuk cari tukaran duit receh.

Menjelang matahari terbit kita sampai dan gak diturunkan di Jalan Lebuh Chulia seperti seharusnya, kami turun di terminal Jetty. Katanya jalan kaki gak jauh kok, ada penutupan jalan karena ada acara Peringatan Maulid Nabi yang memang tepat hari ini. Kami Jalan santai menuju Lebuh chulia yang dijadwalkan sebagai tempat kami menginap, Banana Guesthouse. Kejutannya semua penuh, yang tersisa adalah jenis kamar Ac dan kami bisa nunggu menjelang jam 12 karena itu jadwal chekout.

Sambil menunggu siang kami putuskan untuk jalan-jalan dulua. Belum sikat gigi belum cuci muka! Sepanjang jalan banyak klenteng-klenteng Tinongkok yang kami temui nyelip diantara toko-toko berbau india. Karena mungkin kami kepagian, semua masih tutup dan sebagian ada yang sedang renovasi. Tapi tetap eksis walaupun cuma foto dari luar aja. Awalnya kami kira, karena memang ada acara makanya toko masih banyak yang tutup, eh ternyata memang seminggu kami di sini, aktivitas memang mulai ramai kalau udah menjelang siang.

Kami telusuri jalan Lebuh chulia, lalu tembus di alun-alun di jalan padang kota lama. Disini lah kami berbenah diri, karena gak ada air, kami berdua bersihin muka yang udah kucel banget pakai toner pembersih muka, dan karena gak sempet sikat gigi, kami ngunyah permen karet Heppydentwhite. hehe Padahal di alun-alun ini masih ramai orang-orang yang habis konvoi merayakan maulid nabi. Bodo amat deh, gak ada yang kenal ini.

Sekitar jam sebelas, kami kembali ke penginapan, masih belum ada yang checkout. Sampai jam setengah satu masih belum ada yang check out, gak bisa nih. Kami cari penginapan lain. Penuh. And you know apa keputusan kami, kami akan langsung ke Malaka malam ini! padahal kesepakatannya kan mau dua malam di Penang.

Sebelum berangkat kami keliling-keliling kawasan george town dulu. Habis itu mampir di mesjid Kapitaling, mesjid ini juga jadi objek wisata loh, bule yang masuk harus dipakaikan jubah. Didalam ada tourguide yang baca al-quran, bulenya ngangguk-ngangguk aja dengerin. Kami malah fokus berbenah di toilet, bukannya wisata. aduh aduh. Karena belum ada asupan makanan, kami makan didepan mesjid ini, kayak ampera gitu, saya makan sama minum kenanya 4 ringgit. Cuma itu, kami makannya satu berdua, muehehehe. Gak kenyang sih, tapi cukuplah.

Kami sempet mampir ke Komtar dari lebuh chulia lumayan jauh loh ini, jalan kaki. Ternyata ini terminal dalam kota, gak melayani antar kota. Kami balik lagi deh dan sepakat naik dari Terminal butterworth di seberang perai. Karena baju udah hampir dua hari gak ganti, kami nemu toliet umum yang bersih, dan tukar baju sejenak, karena dengan begonya aku lupa ganti baju waktu di toilet mesjid. Seharian jalan, sneakers yang saya pakai benar-benar berat dan bikin kaki saya lecet. Saya berjanji gak akan pakai sneaker ini lagi kalau jalan-jalan nanti.

Untuk menuju terminal butterworth kami harus nyebrang naik ferry, dan GRATIS! hehe tapi kalau dari arah sebaliknya, Butterworth menuju terminal jetty kena 1.6 RM. Sampai di butterwoth langsung disambut terminal, dan kami lagi-lagi diserbu ‘calo’. Dapet harga lebih murah dari yang lain, 40 RM untuk satu orang kami berangkat malam. Jadi ceritanya kami jadi penghuni terminal, kami udah standbye dari jam 4 sore loh. muehehehehehe.

Sambil nunggu kami makan dulu di medan seleranya, dan lucky us! makanannya uenak bener, saking laparnya kami pesen satu nasi goreng dan satu kwetiau goreng porsinya juga gede, harganya cuma 3 RM. Sambil nunggu-nunggu diterminal kami sibuk memperhatikan orang-orang. Ini juga salah satu hobi saya. hehe

Hampir jam sebelas, bus belum juga datang, ternyata kami dipindahkan ke bus lain tanpa peberitahuan, untung saja gak di tinggal. Dan berangkatlah kami menuju Melaka. Serunya saya dapet tontonan gratis khusus tujuh belas tahun keatas di bus, ada ABG lagi kissing, gelap sih memang tapi masih samar-samar keliatan sama aku yang duduk dibelakang, mereka soalnya ada celah lumayan berjarak di bangkunya. hehehehe

Perjalanan menuju Melaka sangat melelahkan, karena kami belum sempat meluruskan badan sejak perjalanan KL menuju Penang, ya mungkin itu lah resikonya kalau budget pas-pasan. Saya belajar untuk siap menghadapi hal yang gak sesuai dengan rencana..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s