Menuju Mt. MARAPI

Iming-iming kepuasan mata akan indahnya pemandangan yang bisa saya lihat akhirnya membawa saya ke puncak Mt. Marapi Sumatera Barat, 09 mei 2015.

image

image
Full team

Padahal saya sudah hampir membatalkan keberangkatan saya karena malam nya saya terserang flu dan demam. Pagi nya saya masih agak pusing, teman saya memberikan antibodi untuk meringankan sakit saya. Kudit juga bilang rencana ini dibikin sebagai perayaan selesainya skripsi saya. Dengan keadaannya yang gak begitu fit, saya berangkat dengan empat orang lainnya. Semuanya cowo. Ada kudit dan Kalek sebagai orang yang udah pernah mendaki sebelumnya. Terus ada bg ikra dan deri yang statusnya sama seperti saya, newbie.

Saya berangkat dengan travel yang kebetulan saya dapat sama dengan harga naik bus umum, 50rb/org nya. Untuk mencapai posko pendaftaran, saya naik pickup dan membayar 5rb/org. Katanya habis tenaga banyak kalau mendaki jalanan beton ini sekarang. Setelah mendaftar kan nama-nama tim kami, saya dan teman-teman lainnya langsung berangkat. Ada empat tipe jalur yang saya lewati, jalanan aspal, tanjakan tanah, tanjakan akar dan yang terakhir, bebatuan.

image

image

Tanjakan yang terbentuk dari tumpukan akar tanaman yang paling menyiksa saya rasanya. Bentuknya persis seperti anak tangga yang tersusun secara abstrak. Jarak antara anak tangga satu dan lainnya agak berjauhan membuat kaki saya yang panjangnya gak seberapa harus bekerja ekstra. Kudit ngejek saya karena katanya saya tiap lima langkah istirahat.

Bosan karena letih saya lumayan banyak mengomel sepertinya. Tanjakan gak ada habisnya. Saya mulai bosan melawan rasa capek dikaki saya. Salah saya juga sebenarnya, sudah tau mau mendaki tapi gak pakai olahraga dulu.

Tiap saya berhenti, teman-teman yang lain pasti bilang, sebentar lagi sampai kok. “Kalian udah bilang itu sejak 3 jam yang lalu” saya pasti menjawab dengan kalimat ini. Mereka cuma ketawa lihat saya yang ngos-ngosan.

Hampir mencapai tempat berkemah saya makin menjadi, saya muak sekali harus mendaki lagi!
Kalimat yang paling sering saya tanyakan adalah , masih jauh?
Saya tetap menanyakan hal ini walaupun saya tau mereka pasti akan menjawab sedikit lagi. Hehe

Jam 4 kami sampai ditempat berkemah. Kudit bilang kalau gak ketutup awan, pemandangannya bagus banget disini. Saya sudah gak begitu tertarik dengan hal itu, karena saya sedang sibuk mengrecover tenaga saya. Saya akan berpikir lagi ketika nanti mau diajak mendaki gunung lagi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s