Go Show Penuh Cobaan di Melaka Part 1

IMG_3108

Saya dan masadit sampai kepagian di Malaka, Kuala Lumpur. Bahkan terminal Malaka Central masih belum menunjukkan aktifitas yang berarti. Toko-toko di dalam terminal masih tutup. Perjalanan panjang dari Penang sukses membuat kami lelah, belum lagi perut keroncongan karena belum makan apapun dari malam. Tujuan pertama kami adalah toilet. Toilet ini letaknya tidak jauh dari McD terminal. Disana tertera 1RM, tapi karena masih terlalu pagi, kami bisa berbenah diri secara gratis di toilet ini. Masing-masing dari kami berupaya semaksimal mungkin untuk membenahi diri agar terlihat “sudah mandi” walaupun hanya modal sikat gigi dan pencuci muka.

Terminal Malaka central sudah mulai ramai ketika kami selesai berbenah. Kami mulai membuka peta kecil yang kami dapatkan dari bonus buku panduan yang saya beli. Lalu berusaha menyesuaikan lokasi dengan posisi kami sekarang. Berkali-kali kami putar peta. Kearah mana yang benar. Ah, ternyata peta ini hanya melukiskan kondisi wilayah di dalam kota malaka saja. Malaka Central tidak ada di dalamnya. Kami bertanya kepada orang di atas jembatan penyeberangan terminal. Mereka berdua pun bingung, bahkan mereka bisa menujukkan kearah yang berbeda untuk satu nama jalan yang kami sebutkan. Mereka juga berdebat sambil menunjuk peta, sesekali menunjuk kearah jalan. Tidak mau ikut rusuh dalam debat kedua sahabat itu, kami pun pamit undur diri dan balik lagi menuju terminal.

Ketika jalan turun, kami melihat bus parkir tidak jauh dari jembatan. Kesanalah tujuan kami. Entah ilusinasi apa yang membawa kami ke pangkalan pengisian minyak, sehingga kami mengira itu adalah terminal bus dalam kota. Ternyata itu bus yang sedang mengisi bahan bakar minyak. Setelah lelah berputar-putar, kami membaca kembali buku panduan yang memang sudah kami beli jauh hari sebelum melakukan kan trip ini. Akhirnya karena matahari pun sudah semakin menyengat, masadit memberanikan diri bertanya kepada warga setempat. Dan ternyata sedari tadi kami sudah berada diposisi yang benar. Hanya tinggal putar arah kebelakang dan disana lah bus berhenti untuk menaikkan penumpang. Kami mencari nomor bus yang di perintahkan buku panduan. Kami menuju kawasan Stadtyus. Salah satu kawasan yang masuk dalam World Herittage.

Bergelut dengan peta masih menjadi cerita selanjutnya. Saya bersikeras mau menjadi pemandu jalan. Masadit saya dengan legowo membiarkan saya membaca peta dan menujukkan jalan. Jalanan dalam kota ini sempit dan banyak belokan. Bahkan beberapa kali kami hanya memutari jalanan itu-itu saja. Tujuan kami yang pertama adalah penginapan. Beberapa hostel dan guesthouse sudah kami list. Akhirnya saya menyerahkan urusan baca peta ini ke masadit, dia tersenyum dan bilang “sudah dibilang, saya saja tadi” duh! Senyum setengah ditahannya itu minta di keplok pakai cinta apa ya. Dan memang benar, saya dipandu dengan baik dan benar, ya mungkin seyogyanya masadit bisa dijadikan pemandu hidup juga, eh.

Beberapa hostel yang kami list ternyata full booked! Padahal itulah hostel dengan harga minim tapi rewiew lumayan bagus dari para traveler. Akhirnya kami mencoba Go show saja. Tapi karena memang sudah akan masuk weekend, harga hostel kebanyakan memberlakukan harga weekend yang bisa sampai dua kali lipat.

Kami baca ulang buku panduan dan memilah hostel/guesthouse yang bisa kami inapi. Kami memilih salah satu guesthouse dengan rewiew paling bagus. Pintunya tertutup pintu terali. Berkali-kali saya memanggil tidak ada respon. Saya mengintip sedikit, konsep nya homey sekali. Saya dan masadit bergantian naik, karena posisinya ada di lantai dua. Belum ada respon.

 “Sekali lagi, kalau gak ada kita pindah” saya akhirnya kembali memencet bel. Seorang gadis bule dengan mata biru keluar dengan imutnya. “hallo, where is the owner?” iya, kalimat ini yang saya lontarkan.

“You can talk to me,” duh, suara gadis kecil ini nyaring sekali, dan englishnya padat, untung tidak panjang kalimat yang diocehnya, kalau sempat panjang mungkin saya akan kelabakan.

“Oh, do you have a room? A dorm?” saya berusaha memaksimalkan kemampuan berbahasa inggris saya yang memang tidak seberapa.

“I don’t think so. Because our room was full boked and blaa..blaa..blaaa..You blaaa..blaaa..Or you can check at….blaa…blaaa… I think you can blaa…blaa…blaa..”

“Where is that?” aku mencoba mencerna lokasi yang dia katakan.

“You can go back..blaa..blaaa…blaaa”

“ Ok, thankyou”

“Your welcome”

Saya turun dan menemui masadits yang sedang menikmati kursi kayu untuk sekedar melepas penat. Saya turun dengan penuh senyuman. “Ada?” dia bertanya. Saya hanya mengangkat bahu. “Terus kenapa lama sekali?”

“Tadi ada anak kecil yang bilang kamarnya full, tapi ada disebelah, entah dimana, mungkin kita bisa cek”

“Oh gitu, ayok kalau gitu”

“Tapi satu hal yang harus saya terangkan disini sebelum kita nanti menemukan kebingungan baru, adik manis itu banyak kasih informasi, tapi saya nggak bagitu ngerti dia ngomong apa, yang saya tangkap cuma dua point, kamarnya full dan kita disuruh cari ketempat lain, itupun masih mungkin,” saya mengeluarkan senyum termanis.

“Saya salah mengirim orang untuk bertanya ternyata”

“Hehe tapi tidak salah pilih partner hidup kan?” dia mencubit pipi saya. Oke kita skip saja moment ini. Kami melanjutkan pencarian kami…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s