Go Show Penuh cobaan di Melaka Part 2

Saya lanjut mencari hostel yang tidak begitu jauh dari Jongker street, karena saya memang penasaran dengan ramainya malam di sini. saya tiba disebuah guesthouse, di dalam buku panduan juga ada review mengenai guesthouse ini, tapi hanya ada sedikit penjelasan. Di pintu tertera nama guesthouse-nya, ketika masuk, yang saya temui hanya anak tangga. Setelah saling bertatapan, saya dan masadit mengangguk dan perlahan menanjaki satu persatu anak tangga itu.  Lantai empat tanpa lift! Saya mencondongkan kepala, tidak ada resepsionis. Yang ada hanya orang-orang berambut pirang dengan kulit putih dan semuanya cowo. Takut kejadian sebelumnya terulang kembali, giliran masadit yang harus uji coba kemampuan berbahasa inggrisnya, pikir saya. Sementara masadit ke dalam, saya gelendotan di pinggir tangga dengan puluhan sandal dan sepatu di lantai.

Tidak berapa lama masadit keluar. Saya menatapnya penuh tanya. Dan tatapan saya bisa diartikannya dengan sempurna.

“Gak ada orang, yang di dalem itu tamu. Mereka juga gak tau yang punya kemana,” saya menarik nafas. Hari sudah menjelang siang. Padahal sebelum matahari terbit kami sudah sampai di Melaka ini. Saya bermaksud untuk istirahat sejenak dan melanjutkan posisi duduk yang menurut saya sudah lumayan nyaman, tapi masadit menolak untuk duduk bersama puluhan sepatu dengan beragam aroma disekeliling kami.

Akhirnya kami putuskan untuk mencari agak jauh dari kawasan Jongker street, tapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. saya temukan guesthouse dengan harga 17 RM, dan mereka tidak memberlakukan tarif weekend. Memang tidak terlalu mahal, tapi kami mencoba mencari hostel lainnya. Nothing. Semuanya memberlakukan tarif weekend. Akhirnya kami sepakat memilih guesthouse seharga 17 RM ini untuk kamar mixdorm. Harga yang kami bayarkan ini naik 7RM dari harga yang seharusnya kami bayarkan jika kamar yang kami tuju diawal tidak full.

Di gedung ini saya nungguin masadit selesai shalat Jum'at
Ini tempat saya pesan kamar hostel dan nungguin masadit selesai shalat Jum’at. 

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, saya hanya diberi kwitansi tanpa kunci. Saya kira saya sudah bisa berselonjor santai dan tidur siang. Hari masih pukul 12.00 waktu setempat. Dan waktu check-in adalah pukul dua siang hari. Berhubung hari itu hari jumat, masadit bergegas menuju Masjid terdekat, dan saya? Saya duduk dengan mata sayu di café guesthouse. Ingin rasanya saya menaikkan kaki ke kursi sebelahnya dan menelungkup dimeja. Ngantuk maksimal! Tapi saya urungkan niat saya karena semua barang-barang berharga sekarang tanggung jawab saya. Kalau ditinggal tidur saya yakin akan terjadi cobaan selanjutnya.

Setelah masadit tiba, saya minta izin untuk istirahat sebentar dan dia bertugas menjaga semua barang-barang. “Iya tidur aja, saya tadi udah istirahat bentar kok di mesjid”. Ah ternyata saya keduluan.  Saya menelungkupkan kepala di meja. Berharap saya tidur nyenyak dan ketika terbangun sudah berada di kamar guesthouse. Tapi banyaknya kendaraan yang lalu lalang dan ramainya pengunjung café sukses membatalkan skenario indah saya. Kepala saya malah semakin pusing dan akhirnya saya memutuskan untuk mengamati keadaan sekitar dari tempat saya duduk. Saya sudah tidak sanggup lagi berjalan kaki.

Sudah lewat jam dua. Tapi belum ada tanda-tanda kami akan diberikan kunci. “Sorry, kamarnye sedang di clean, baru saja ada yang check out dan our clening servis little late to come”.

Baiklah, saya juga sudah tidak punya energi lagi untuk berdebat. Lagi pula yang saya bayangkan hanyalah kasur dan bantal guling. Eh emang ada ya bantal guling?  Jam tiga waktu setempat akhirnya kami diberi kunci kamar. Dan kami akan diantarkan oleh seorang pria dari guesthouse. saya kira akan menginap di lantai atas café ini, ternyata saya harus berjalan melewati ruko-ruko di seberang cafe, menyelinap di balik lorong kecil, melewati pedagang-pedagang india, dan tibalah kami tempat yang dituju.

Kamarnya nyaman, ada AC, Kipas Angin, Toilet bersih meskipun diluar kamar
Kamarnya nyaman, ada AC, Kipas Angin, Toilet bersih meskipun diluar kamar

Kamar kami berada di lantai dua. Selain kami ada dua warga Negara asing yang sudah duluan. Dan menurut cerita pria yang mengantar kami, siang tadi baru saja ada lima warga Negara Indonesia yang check out dari kamar ini. Saya tidak terlalu memperhatikan pria ini berbicara, yang saya lakukan ketika melihat tempat tidur adalah mengambil posisi, dan tidur. Ah, akhirnya. Pelajaran banget pertama kali backpackeran ini. Next time saya tidak akan pernah Go show saat weekend kalau cari penginapan. Capek maksimal! Bayangkan saja berapa banyak waktu yang terbuang jadinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s