One Fine Morning di Lembah Harau

Saya dan masadit terlibat obrolan dingin.

“Mas cuma ada yang harga IDR 400,000, gak cukup nih budget kita,”

Jadi gimana bagusnya, apa kita balik lagi ke Payakumbuh? itu juga masih satu jam lagi dari sini, belum tentu juga ada kamar yang sesuai budget kita,

“Padahal kita udah pernah lho kayak gini, masih aja nekat goshow buat booking penginapan,” saya udah mulai frustasi sebenarnya. Capek dan ngantuk.

Atau kita lanjut aja langsung ke Pekanbaru?” saya lirik jam, sudah pukul 19.30 wib. Mana sanggup harus lewat jalan lintas semalam itu, naik motor pula. Saya juga yakin masadit bercanda dalam keseriusannya.

“Mas, aja, aku tinggal disini aja kalau gitu,” saya mulai menyebalkan, kata masadit sih gitu.

Yaudah kita coba aja ya tanya yang di Harau sana, manatau ada rekomendasi yang lain,”

“Tapi gelap lho mas, serem,”

Terus mau gimana lagi?

Akhirnya saya ikut masadit menembus kegelapan menuju Lembah Harau. Saya sudah menelepon dua homestay di Lembah Harau sebelumnya. Hanya ada dua homestay yang banyak mendapatkan review dari blog maupun web booking. Yang satu, cuma tersedia kamar dengan budget IDR 400,000. Yang satunya lagi sudah full booked. Masadit masih berharap keajaiban dengan mendatangi langsung homestay-nya yang sudah jelas-jelas full booked. Sebenarnya saya dan masadit sudah sering sebelumnya ke Harau, kalau saya biasanya sama rombongan kampus, sementara masadit sudah beberapa kali juga berkunjung ke Harau sama temen-temennya. Tapi kami sama-sama belum pernah sampai selarut ini, berdua aja. Jalan masuk menuju Lembah Harau gelap banget, kami cuma dibantu sama lampu motor. Sesekali ada Motor yang lewat, justru makin buat saya parno.

Seperti yang saya duga, pastilah kalau sudah full booked, gak akan ada kamar kosong, soalnya kamar disana gak banyak. Salah seorang disana, Bang Riki, menyarankan saya untuk menginap di salah satu Homestay temannya. Setelah nego dan meyakinkan kami akan check-out pagi untuk melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru, akhirnya saya dan masadit diantarkan ke penginapan tersebut, saya dan masadit melihat-lihat kamarnya, dan karena memang sudah gak ada pilihan, kami setuju untuk istirahat di Harau View dengan harga IDR 200,000. Kamar nya akan saya review di postingan terpisah ya. Saya dan masadit berkali-kali ditanyain perkara sudah menikah atau belum, kami pun berkali-kali meyakinkan kalau kami sudah punya buku nikah, hehe. Alhamdulillah, masih bisa istirahat.

img_0952
Morning sunshine from our homestay

Cuaca yang dingin membuat saya belum bisa berpisah dari kasur dan bantal guling sepagi mungkin. Saya lihat jam, masih pukul 06.15 WIB,  masadit sudah siap-siap mau keluar.  Padahal masadit bukan morning person.

“Siap-siap ya, aku tunggu diluar,”

“Mas mau kemana sih kita?”

“Hayuk kita jalan-jalan, sambil foto-foto, mau foto-foto gak?” masadit tau caranya ngajakin saya.

Lama saya membujuk diri untuk beranjak dari kasur. Saya intip masadit sudah sibuk dengan kamera hp nya, bukan selfie lho ya. Saya mengganti pakaian, mengunci pintu penginapan. Saya berjalan dengan mata yang masih sedikit mengantuk. Sekarang saya percaya, masadit bener-bener butuh liburan, sampai-sampai gak mau melewatkan sedikitpun jam berharga di Lembah Harau ini.

“Neng, coba jalan kesana, nanti muter-muter ya,” tatapan saya bisa diartikan ‘kesana?!”

“Iya, cepet, bagus viewnya,”

Berlari-an-lah saya di lahan sawah yang sudah selesai dipanen yang tepat berada di depan kamar kami. Meskipun ujung-ujungnya saya juga yang pakai foto-foto masadit hehe. Matahari pagi dan udara sejuk bener-bener bikin tenang. Saya dan masadit langsung mengambil motor dan keliling Lembah Harau sambil melihat aktivitas warga sekitar sekitar. Kami melewati salah satu air terjun di Lembah Harau, airnya lagi kering. Jadi saya dan masadit gak mampir untuk foto-foto. Jejejeran kedai-kedai yang berbaris di seberang air terjun juga masih tutup karena memang masih pagi. Dalam perjalanan, setiap ada objek foto yang bagus, berhenti. Sampai-sampai saya dan masadit ditungguin monyet-monyet waktu lagi asyik foto-foto. Kabuuur!

img_0955
Selamat pagi
img_0902
kir kanan tebing
img_0910
Spot foto favorit, pertemuan dua tebing. Disini saya ‘ditemenin’ BANYAK MONYET! haha

Setelah lumayan jauh kami berkeliling, saya dan masadit sarapan di warung Kopi Kawa. Pokoknya jalur saya dan masadit cuma lurus aja dari Harau View. Kami memesan satu Nasi Miso dan satu Kopi Kawa untuk berdua, totalnya IDR 15,000 saja. Di warung ini si ibu memajang foto beserta review tulisan tangan bule-bule yang mampir ke warungnya. Si ibu sudah sangat mengerti the power of review sepertinya. Setelah sarapan saya dan masadit langsung packing untuk melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru.

img_0914
Sarapan Kopi Kawa

Perjalanan menuju penginapan semalam terasa jauh banget, tapi paginya justru berasa deket banget. Mungkin suasana hati bisa membuat jarak dari suatu perjalanan jadi berubah-ubah ya ^^

Advertisements

5 thoughts on “One Fine Morning di Lembah Harau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s